INDONESIAKININEWS.COM - Komedian Lies Hartono, atau yang akrab disapa Cak Lontong, baru-baru ini mengeluhkan bagaimana pelaku politik di In...
Pasalnya, Cak Lontong merasa di-blacklist ketika dirinya mendeklarasikan sebagai pendukung mantan pasangan calon nomor 03 dalam Pilpres 2024 lalu.
Seluruh pekerjaannya mendadak dibatalkan hanya karena mendukung paslon Ganjar Pranowo dan Mahfud MD pada saat itu.
Perngakuan tersebut disampaikan Cak Lontong ketika hadir di poscast Mahfud MD belum lama ini, dikutip via postingan akun X @V3g3l.
"Saya pada titik berkesimpulan bahwa politik kita ini tidak profesional pelakunya, menurut saya. Padahal orang politik itu selalu mengatakan bahwa tidak ada kepentingan, eh, tidak ada teman dan lawan yang abadi," tuturnya, dikutip pada Selasa (1/4/2025).
Cak Lontong menambahkan, "Ketika kepentingan sama yang diingin dituju sama ya walaupun dulu mungkin berseberangan kan bisa jadi berkawan. Dan itu hal, menunjukkan sesuatu yang sebenarnya. Itu kan jiwa profesional kan begitu. Sangat objektif, profesional itu kan, bukan subjektif."
Sayangnya, pernyataan tersebut hanya omon-omon belaka. Ketika seseorang memiliki pilihan yang berbeda dengan orang lain, maka orang tersebut akan dianggap lawan.
Menurutnya, itulah yang menggambarkan politik di Indonesia belum objektif. Sebaliknya, justru subjektif.
Padahal, setiap warga negara memiliki hak suara yang dilindungi secara konstitusional. Artinya, memilih paslon lain sama sekali tidak melanggar undang-undang.
"Tapi politik kita menurut saya, itu masih subjektif banget. Saya ini sebagai warga kan punya hak konstitusi. Pada posisi saya sebagai warga negara yang jelas-jelas punya hak suara, punya hak politik dilindungi secara konstitusi," lanjutnya.
"Tetapi ketika saya menggunakan hak saya secara konstitusional, tidak melanggar undang-undang, kok saya dimusuhin? Kan aneh. Buat saya itu nggak profesional. Ini namanya baperan," kesalnya.
Rupanya, setelah satu Minggu Cak Lontong menunjukkan dukungannya kepada Ganjar-Mahfud MD, seluruh pekerjaan yang sudah deal mendadak batal.
Bahkan, untuk pekerjaan yang sudah membayar uang muka kepada Cak Lontong.
"Kalau saya mendukung Pak Ganjar, Pak Mahfud, ternyata begitu saya ikut ngantar daftar ke KPU itu pak, itu dalam seminggu berikutnya job saya di-cancel semua itu pak. Langsung hilang. Bahkan ada yang sudah DP, tetap di-cancel. Ya, untung masih dapat DP," keluhnya.
Hal itu menunjukkan betapa para pelaku politik di Indonesia tidak melihat setiap orang memiliki hak suara masing-masing.
Padahal, Cak Lontong juga bukan politikus yang terjun langsung ke dalam salah satu partai pendukung.
"Tapi kan itu menunjukkan bahwa sudah tidak profesional. Buat saya itu indikasi bahwa politik kita belum profesional," ujarnya menambahkan, yang dibenarkan oleh Mahfud MD.
"Satu, saya juga bukan ketua umum partai. Saya tidak punya organisasi ormas, saya hanya orang yang menggunakan hak suara saya untuk mendukung pasangan yang menurut saya layak untuk saya dukung, saya perjuangkan," lanjutnya.
Cak Lontong merasa apa yang terjadi pada dirinya aneh. Sebab, ia sebagai warga negara tidak melanggar apapun.
"Kenapa saya melakukan itu dengan cara yang benar, saya tidak mengganggu konstitusi, saya tidak melanggar. Kok tiba-tiba saya di, semacam, 'di-blacklist. Ini kan aneh," pungkasnya dengan nada geram.
Pernyataan Cak Lontong justru dianggap wajar oleh warganet. Mereka juga menyinggung dukungan Cak Lontong kepada mantan Presiden Joko Widodo dahulu.
"Dari pendukung garis keras Jokowow lalu tiba-tiba dukung Ganjar ya di-blacklist lah. Orang yang berkuasa masih Jokowi," ujar seorang warganet di kolom komentar.
"Ya seperti itulah yang dikatakan Cak Lontong, politik kita itu tidak profesional," kata warganet yang lain.
"Mungkin hal serupa juga dialami oleh sebagian artis/ulama pendukung 02 saat 2019. Cak Lontong tau nggak kira-kira?" tanya warganet lainnya.