INDONESIAKININEWS.COM - : Soeharo, saat masih meniti karier, termasuk tentara yang kenyang akan tamparan dalam arti yang sebenarnya. Tak ma...
INDONESIAKININEWS.COM - : Soeharo, saat masih meniti karier, termasuk tentara yang kenyang akan tamparan dalam arti yang sebenarnya.
Tak main-main, pernah ada tiga jenderal yang pernah menempeleng Soeharto muda.
Salah satu yang paling terkenal adalah Jenderal Ahmad Yani yang ketika itu jadi atasan Soeharto.
Soal tempelengan kepada Soeharto pernah diceritakan oleh Soebandrio dalam memoarnya yang berjudul Kesaksianku tentang G30S.
Selain menuding Soeharto sebagai sosok yang melakukan kudeta merangkak kepada Sukarno, Soebandrio juga menyebut pria Kemusuk, Bantul, itu punya rekam jejak yang buruk dalam TNI.
Yang pertama, saat di divisi Diponegoro, Soeharto pernah menjalin relasi dengan pengusaha Tionghoa, Liem Sioe Liong dan Bob Hasan.
Soebandrio menyebut orang-orang ini menjalankan bisnis penyelundupan berbagai barang.
Kabar itu berhembus ke mana-mana hingga ke telinga Jenderal Ahmad Yani.
Ahmad Yani pun disebut sangat marah mendengar kabar tersebut.
Soeharto pun dia tempeleng karena dianggap mempermalukan korps Angkatan Darat (AD).
Tak hanya itu, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal AH Nasution juga dikabarkan pernah memecat Soeharto sebagai Pangdam Diponegoro secara tidak hormat.
Soeharto dianggap telah menggunakan institusi militernya untuk mengumpulkan uang dari perusahaan-perusahaan di Jawa Tengah.
"Sebagai Penguasa Perang, saya merasa ada wewenang mengambil keputusan darurat untuk kepentingan rakyat, ialah dengan barter gula dengan beras," begitu pengakuan Soeharto.
"Saya tugasi Bob Hasan melaksanakan barter ke Singapura, dengan catatan beras harus datang lebih dahulu ke Semarang."
Tapi menurut Gato Subroto, Soeharto masih bisa dibina.
Akhirnya, Soeharto pun disekolah di Seskoad di Bandung.
Sosok lain yang pernah menempeleng Soeharto adalah Alex Kawilarang.
Ketika itu Alex Kawilarang adalah Panglima TT VII/Indonesia Timur.
Di tengah-tengah situasi Perang Kemderdekaan dan menumpas pemberontakan Kahar Muzakkar, Kawilarang melapor kepada Soekarno bahwa keadaan di Makassar sudah aman.
Tapi Bung Karno malah menyodorkan sebuah radiogram yang baru saja diterimanya yang melaporkan bahwa pasukan KNIL Belanda sudah menduduki Makassar.
Ternyata Brigade Mataram, pasukan yang seharusnya mempertahankan kota Makassar, telah melarikan diri ke Lapangan Udara Mandai.
Kawilarang marah besar dan segera kembali ke Makassar.
Setibanya di lapangan udara ia langsung memarahi komandan Brigade Mataram, Letkol Soeharto, sambil menempelengnya.
Dalam satu wawancara, Kawilarang membantah bahwa ia menyerang Soeharto, tetapi dia mengakui bahwa dia harus menegurnya pada waktu itu.
Ternyata Soeharto disebut tidak bisa melupakan tamparan dari Alex Kawilarang itu.
Bahkan sampai Kawilarang meninggal pun Soeharto tidak pernah berbicara dengan bekas atasannya itu.
Baru setelah Soeharto turun dari jabatannya dan digantikan oleh B.J. Habibie, Kawilarang memperoleh penghargaan atas jasa-jasanya.
Tapi karena pernah terlibat dalam Permesta, Kawilarang tidak pernah mendapatkan penghargaan militer seperti teman-teman perwiranya.
Pada 15 April 1999, Kawilarang akhirnya memperoleh pengakuan atas jasa-jasanya dalam ikut membentuk Kopassus.
Pada peringatan hari jadi Kopassus ke-47, Kawilarang diterima sebagai Warga Kehormatan Kopassus di Markas Kopassus di Cijantung, Jakarta Timur.
Sebagai tandanya, ia dianugerahi sebuah baret merah dan pisau komando.
Sumber: Intisari Online
Sumber: Intisari Online