INDONESIAKININEWS.COM - Haikal Hassan Baras tampaknya kesal dengan situasi sosial politik di Indonesia di mana menurutnya seorang pencerama...
INDONESIAKININEWS.COM - Haikal Hassan Baras tampaknya kesal dengan situasi sosial politik di Indonesia di mana menurutnya seorang penceramah agama malah banyak diawasi ketimbang koruptor.
Ia menyebut situasi itu sebagai zaman setan. Apakah kita saat ini sedang memasuki zaman itu?
“Zaman setan adalah zaman dimana seorang penceramah lebih diawasi & dicegah dari pada koruptor bejad...,” kata Haikal, Minggu 11 April 2021.
Banyak netizen memberikan tanggapan. Berikut di antaranya:
@nohjiwok: “Kalo penceramahnya ngajarin ngerakit bom ya harus diawasi dong beh.”
@lukmanfrompalu: “Inilah era uji nyali kewarasan publik. Suara2 kritis dari anggota dewan sdh jarang terdengar.
Apakah mulutnya sdh disewa ut stop bicara kritis? Terima kasih kepada Babe Haikal masih terus bersuara kritis. Semoga ulama dan kaun cendekiawan kita senantiasa dilindungi Allah SWT.”
@choerul_umam04: “Emang di presiden sebelumnya gak ada korupsi ya?”
Diduga, cuitan Haikal erat kaitannya dengan polemik yang terjadi di PT Pelni.
Seperti diberitakan sebelumnya, Pejabat di PT Pelni yang dipecat oleh direksi karena memberikan izin acara pengajian disebut bernama Profesor Noorhadi.
Direksi PT Pelni mencopot Noorhadi karena penceramah yang diundang dalam kajian Ramadan daring banyak yang dicap radikal.
Di media sosial beredar nama pejabat PT Pelni yang diduga telah dicopot.
Dari jejak digital yang ditelusuri warganet, pejabat PT Pelni itu disebut pernah membela organisasi Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI. Organisasi yang dibubarkan pemerintah pada tahun 2017.
Berdasarkan jejak digital yang beredar, Profesor Noorhaidi mengikuti seleksi pimpinan tinggi di Kementerian Desa Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi.
Profesor Noorhaidi tercatat mengikuti seleksi untuk pengisian jabatan Direktur Jenderal Pembangunan Desa dan Pedesaan.
Menurut data, seleksi kompetensi manajerial dan sosial kultural per 3 Maret 2021, Profesor Noorhaidi dijadwalkan mengikuti seleksi tersebut bersama dengan dua nama lainnya.
Warganet menemukan jejak digital Profesor Noorhaidi pernah membela HTI dalam komentarnya yang ditayangkan di media online.
Kala itu pada 8 Mei 2017, Profesor Noorhaidi mengatakan pembubaran HTI itu adalah blunder besar.
Warganet pun heran kok bisa seleksi Dirjen di kementerian nggak bisa mendeteksi riwayat peserta seleksi.
“Aneh sih kalau seleksi pejabat selevel Dirjen ga lihat rekam jejak digital…Padahal dah jelas banget Prof Noorhaidi ini menyebut pembubaran HTI blunder besar.
ASN aja biasa dipecat kalau ketahuan pro organisasi terlarang HTI. Ini kok malah diijinkan ikut seleksi,” tulis akun @Paltiwest menilai profil Profesor Noorhaidi seperti dilansir Hops.id.
Lihat artikel asli
S: Kumparan