INDONESIAKININEWS.COM - Kritisi hajatan Rizieq Shihab yang hadirkan kerumunan, dr. Tirta diserang komentar bernada rasis. Diberitakan sebelu...
INDONESIAKININEWS.COM - Kritisi hajatan Rizieq Shihab yang hadirkan kerumunan, dr. Tirta diserang komentar bernada rasis.
Diberitakan sebelumnya, dr. Tirta tampak vokal mengkritisi acara Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab.
Hal itu membuat dr. Tirta meradang dan mempertanyakan soal aturan pemerintah terkait kegiatan berkerumun.
Melalui media sosial, dr. Tirta menyuarakan pendapatnya soal pemerintah yang dirasa kurang tegas.
Namun, apa yang dilakukan dr. Tirta tersebut ternyata menuai respon tak sedap dari beberapa warganet.
Bahkan, ada warganet yang menyerangnya dengan kalimat bernada rasis.
Itu terlihat dari unggahan Instagram dr. Tirta pada Minggu (15/11/2020).
Pemilik nama Tirta Mandira Hudhi itu mengunggah tangkap layar Instagram Story dari seorang warganet.
Ia disebut tengah menjadikan Covid-19 sebagai ladang pansos.
"Si @dr.tirta sedang menjadikan Corona sebagai ladang pansos," tulis warganet tersebut.
Tak hanya itu, bahkan warganet tersebut diduga melontarkan kata-kata yang tidak pantas.
"Iye dah iye ente dokter. Yang kotor kan cina. Yang Islam mah bersih.
Tiap hari minimal 5 kali wudhu, yang hampir bersih kayak mandi.
Apa kabar cina kafir yang cebok abis boker cuman pake tisu?" lanjut warganet itu.
Menanggapi komentar tersebut, dr. Tirta pun mengatakan tak akan menggunakan UU ITE untuk melaporkan tindakan rasis tersebut.
"Teruntuk yg dm dm, dan bawa2 ras ibu saya. Terimakasih semua.
Alhamdulillah. Suwun kumendan. Tenang, saya ga akan pake uu ite, muka saya emng gini," tulisnya.
Dokter yang kerap melakukan edukasi terkait Covid-19 itu lantas mengatakan bahwa dirinya cebok pakai air dan juga wudhu 5 kali.
"Saya cebok pake air kok.
Saya wudhu juga 5x, kalo salah2 bacaan masih butuh bimbingan," imbuh dr. Tirta.
Terkait menjadikan corona sebagai pansos, dr. Tirta membantah.
"Soal kampanye saya juga kritik kok, yg termasuk kolam renang di medan juga ane kritik," sanggahnya.
Protes dr. Tirta terhadap Tamu Pernikahan Putri Rizieq Shihab
Diketahui, pada Sabtu (14/11/2020), Rizieq Shihab menikahkan putri keempatnya bersamaan dengan acara peringatan Maulid Nabi.
Hajatan tersebut diselenggarakan di Petamburan, Jakarta Selatan, dihadiri kerumunan masa lebih dari 10 ribu orang.
Bahkan, siangnya, Satgas Covid-19 mengantarkan bantuan berupa 20 ribu masker dan hand sanitizer ke kediaman Rizieq Shihab.
Seperti diketahui, acara-acara yang berkaitan dengan menimbulkan kerumunan masih dilarang untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19.
Namun, acara FPI di Petamburan diizinkan untuk berlangsung.
Malahan Satgas Covid-19 sempat mengantarkan bantuan berupa 20 ribu masker dan hand sanitizer ke kediaman Rizieq Shihab.
Merespons pernikahan itu, dr Titrta pun mempertanyakan diperbolehkanya undangan yang mencapai 10 ribu orang.
Apabila pernikahan dengan undangan yang mencapai 10 ribu orang diperbolehkan, dr Tirta juga meminta acara-acara lainnya juga diperbolehkan.
Melalui akun Instagram pribadinya, dr. Tirta mengunggah tangkap layar cuitannya di Twitter.
"Jika pernikahan mencapai 10.000 pengunjung boleh, tolong, konser musik, liga 1, sekolah, dan event-event umkm diizinkan juga
Oke ndan? @KemenkesRI @BNPB_Indonesia," tulis dr. Tirta.
Ia juga menyoroti BNPB yang malah memberikan bantuan masker ke acara FPI tersebut.
Menurutnya, diizinkannya acara Maulid Nabi dan pernikahan putri Rizieq Shihab itu merupakan standar ganda.
"Jika memang kerumunan yang dikarenakan weding ditarget dihadiri puluhan ribu menutup jalan protokol boleh, kenapa weding yang lain enggak, kenapa semua weding dirazia?" ungkap dr Tirta di Instagram.
Ia menambahkan, jika hal itu dibolehkan, seharusnya acara konser musik dan sekolah juga dibuka.
Tirta Mandira Hudhi juga menyoroti BNPB yang menurutnya tak tegas, malahan memberikan bantuan sebanyak 20 ribu masker ke acara Rizieq Shihab itu.
"Gimane relawan ama rakyat bingung, bnpb bilang minta pak @aniesbaswedan menerapkan perda, padahal bnpb juga bagi2 masker ke tamu 20.000 pcs
Gini kumendan, mau bikin hajatan acara maulid yo oke, tapi momennya, kan yang berhak melarang ya pejabatnya to ya, mosok satgas ama pemprov ra kompak ah, tentukan aja boleh apa engga?
Kalo boleh aturan gimana, terapkan
Ga boleh alesan apa
Yg tegas ah
Saya menunggu lhoh," tulis dr. Tirta.
S: Tribunnews